Sunday, July 10, 2022

Sebuah Warna Baru

Nadra Aprilia

Ciiittt duarrr

Bunyi decit karet ban yang bergesekan dengan aspal masih sangat jelas terdengar di telingaku. Pada sebuah lorong gelap di pagi buta, Tuhan merenggut semuanya dariku dan sejak hari itu hidupku hanya terpapah tongkat kayu. Sebelah kaki dan tanganku diamputasi, maka sejak hari itu juga aku bukan lagi Eden sang pelukis.

Hidupku sehari-hari hanya memandangi meja dan bangku yang kosong, berharap masih ada satu dua tamu yang datang berkunjung untuk berbincang mengenai lukisanku yang telah mereka beli. Sebagai seorang pelukis yang bahkan tak bisa memegang kuas aku hanya akan menjadi seorang beban. Karirku melesat jauh seperti apel yang jatuh dari pohon tinggi, dihantam tanah, lalu membusuk. Namun, Tuhan tak juga selesai bermain dengan hidupku, Dia terus membuat sandi-sandi takdir yang rumit dan dengan teganya memaksaku memecahkannya sendiri.

***

Eden adalah seorang pelukis realis yang cukup tersohor, sejak kecil ia sudah akrab dengan kuas dan kanvas, semua lukisannya habis terjual, pamerannya tidak pernah sepi. Dari hasil penjualan lukisannya, Eden hidup bergelimangan harta, banyak wanita yang menyukainya, semua orang paling penting di negeri ini memuji bakatnya, hidupnya hampir tanpa cela. Namun, sejak kecelakaan satu tahun lalu hidupnya berubah, kekurangan yang dimilikinya tidak diterima masyarakat, hal ini membuatnya menjadi orang yang pemarah. Perawat pribadinya beberapa kali mengundurkan diri karena tidak sanggup bekerja dengan Eden yang selalu marah setiap saat.

 

Kepulan asap kereta uap berhenti pada sebuah stasiun tua. Samantha, seorang perempuan cantik berjalan keluar kereta dengan koper besarnya. Ia mengeluarkan sebuah foto yang sudah lusuh dari dalam saku, saat menatapnya Samantha tersenyum manis lalu berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya. Hari ini Samantha akan bekerja menjadi perawat baru untuk Eden, ia sangat bersemangat dan tidak sabar bertemu dengan tuannya itu.

“Siapa namamu?” tanya Eden dengan wajah datar.

“Samantha, Tuan.”

“Ini yang terakhir kan, Amanda?” tanya Sandi kepada Amanda.

Amanda merupakan seorang kepala pelayan yang mengurus semua keperluan di rumah Eden, Amanda sudah berjanji ini adalah perawat pribadinya yang terakhir dan apabila ia tidak bisa bertahan lebih dari satu bulan maka Amanda tidak oleh merekrut siapa pun lagi.

Hari-hari mulai berjalan, Samantha akhirnya mengetahui bahwa Eden adalah lelaki yang sangat pemarah dan juga seorang pemabuk berat, ia akan menjatuhkan semua barang ketika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dan selalu tidur dengan keadaan mabuk. Semangatnya telah lama hilang, dalam kemarahannya, sesungguhnya Eden hanya berharap seseorang tidak mengasihani dirinya dan tidak memandangnya sebelah mata seperti yang dilakukan semua orang terhadap dirinya yang sekarang.

Pagi-pagi sekali sudah terdengar kegaduhan dari ruang lukis Eden yang dulu, ternyata itu merupakan ulah Samantha yang ingin membuang semua alat lukis Eden. Kegaduhan ini membuat Eden terbangun dari tidurnya, dengan kepala yang masih pusing ia menghampiri sumber suara. Betapa terkejutnya Eden saat ia melihat Samantha hendak membuang semua alat lukisnya.

“Lancang sekali kau!”

“Tuan, aku hanya ingin kau tidak menangis lagi ketika memandangi semua benda tidak penting ini, karena itu aku akan membuangnya pagi ini.”

“Biadab kau! Kupecat kau hari ini juga.”

“Maaf, Tuan, tapi selama waktu kontrakku dan nyonya Amanda belum selesai, aku akan terus berada di sini.”

Keduanya terus berdebat dan semakin memanas, bahkan Eden hampir melempar Samantha dengan gelas kaca. Lalu dengan penuh amarah Samantha mengampiri Eden, ia menantang Eden untuk membuat sebuah lukisan yang bisa membuat seseorang terkesan dalam waktu satu minggu dan jika itu selesai maka Samantha akan membatalkan kontrak dan pergi dari sana tapi, jika itu tidak berhasil maka Samantha akan terus berkerja di tempat itu dengan bayaran dua kali lipat dan membuat hidup Eden dipenuhi banyak aturan. Eden yang sangat marah dan merasa tidak terima, menyetujui tantangan itu tanpa berpikir dua kali.

 

“Bodoh! Otak udang!”

Eden dengan frustrasi menghantamkan kepalanya di tembok beberapa kali, begitu ia sadar bahwa menyetujui tantangan pagi tadi bukan hal yang menguntungkan untuknya. Ia terus mengutuk dirinya sendiri. Ketika ia mulai termenung, ia pergi menuju ruangan lukisnya yang dulu lalu memandangi semua peralatan di sana. Eden meraih kanvas,  dan mulai melukis dengan tangan kirinya. Satu buah kanvas, dua, tiga dan ia terus mengisi semua kanvas kosong dengan berbagai macam warna. Tanganya penuh cat, begitu pula dengan baju tidurnya. Namun ia terus mencoba dan mencoba selama berhari-hari, untuk pertama kalinya setelah sekian lama semangatnya bangkit lagi, senyumnya kembali. Akhirnya Eden sanggup membuat sebuah lukisan.

Hari penentuan pun tiba, beberapa pekerja dan tamu diundang. Lukisan Eden untuk pertama kalinya dipamerkan kembali. Setelah kain putih yang menutupi lukisan itu dibuka semua orang tampak terkesan dan memberi tepuk tangan. Lukisan itu tidak sama seperti lukisan realis yang selama ini dibuat oleh Eden, lukisan itu jauh lebih imajinatif dan memiliki gaya yang unik. Tangis haru Eden pecah ketika semua momen kejayaannya yang dulu kembali terulang, tidak terkira betapa bahagianya ia sekarang dan ia tahu sebetulnya semua itu berkat Samantha yang selalu menempa dan membangkitkan semangatnya yang sudah lama mati, seakan-akan Samantha telah memberikan warna baru pada hidup Eden.

Melihat keberhasilan Eden, Samantha merasa kehadirannya di sini sudah tidak lagi dibutuhkan, maka ia menepati janjinya untuk pergi dari rumah itu. Eden yang merasa Samantha tidak seharusnya pergi memintanya tetap tinggal, namun janji tetaplah sebuah janji ia harus menepatinya. Dengan rasa sedih akhirnya Eden mengantarkan Samantha pergi. Gadis dengan rambut pirang itu melangkah menuju kereta yang akan membawanya. Dengan perasaan sedih Eden menatapnya dari kursi roda dan membiarkan gadis itu pergi tanpa mengucap apapun kepadanya. 

Bertahun-tahun setelahnya, Eden dengan kaki palsunya berjalan dengan gusar, sudah beberapa jam ia menunggu kehadiran seseorang di stasiun kereta itu. Ia merasa gugup dan bahagia secara bersamaan. Sekalipun ia telah menjadi pelukis hebat yang jauh lebih sukses sekarang, ia tetaplah Eden yang akan gugup ketika akan menemui gadis yang dicintainya. Setelah lama menunggu akhirnya seseorang dengan rambut pirang yang khas muncul dari sebuah peron. Senyuman tidak lagi bisa ditahan oleh dua orang itu, mereka sangat bahagia. Ketika keduanya saling berhadapan, Eden memberikan foto yang dulu ditinggalkan Samantha di kamarnya sebelum ia pergi, yang kemudian disambut senyuman oleh Samantha, riuhnya stasiun tidak dihiraukan keduanya, dunia seperti berjalan lambat dan membahagiakan setiap detiknya.

***

Ingat foto ini? Panti asuhan tempat kita dibesarkan dulu. Aku adalah gadis yang kau hampiri dan kau buatkan sebuah sketsa saat ia hendak lompat ke dalam danau untuk mengakhiri hidupnya. Hari ini, aku sudah mengembalikan semangat yang dulu kau berikan kepadaku dan saat kita bertemu kembali aku harap kau masih terus seperti itu. 


No comments:

Post a Comment

Pump Up Kicks

Nadra Aprilia Tuk tuk tuk tuk Suara langkah kaki seorang wanita cantik yang memakai high heels putih memantul di sebuah lorong panjang. W...